Gagasan Poskolonial dalam Puisi Min Ajli Huwiyyah Karya Ahlam Mustaghanimi

162
foto : www.albawaba.com

sastraarab.com – Poskolonialisme lahir sebagai bentuk gugatan terhadap kolonialisme. Proyek ini digemkan pertama kali oleh Frans Fanon melalui bukunya yang berjudul Black Skin, White Mask, and the Wretched of The Earth (1967). Fanon sendiri adalah psikiater yang meneliti tentang implikasi psikologis kolonialisasi.  Ia menarik kesimpulan bahwa dikotomi kolonial, yaitu adanya kelompok penjajah dan terjajah melahirkan marjinalisasi dan alienasi psikologis yang serius.

Di dunia Anglo Amerika poskolonialisme dirintis oleh Edward Said dengan bukunya yang berjudul Orientalism (1978). Beberapa pemikir menyatakan bahwa Orientalism adalah kitab suci bagi dunia pemikiran poskolonial. Dalam bukunya tersebut Said mencoba menggugat hegemoni Barat dan menjadikan Timur sebagai subyek. Pengistilahan Barat dan Timur sebenarnya adalah konstruksi yang dibangun sendiri oleh Barat agar tercipta jarak antara Barat dan Timur sehingga semakin terlihat jelas eksistensi Barat sebagai kaum superior.

Disamping itu, terbentuknya dikotomi kolonial juga memicu terbentuknya polarisasi antara kelompok superior dan inferior. Penjajah sebagai kelompok superior yang mendominasi, dan terjajah sebagai kelompok inferior yang tidak berdaya. Dengan kata lain, Barat sebagai superior dan Timur sebagai inferior. Diskursus mengenai kekuasan dan dominasi Barat terhadap Timur hingga kini masih mengemuka. Anggapan bahwa Barat adalah aktor utama dan Timur adalah liyan yang inferior dan layak menerima segala bentuk penindasan masih langgeng di dalam benak sebagian masyarakat.

Ahlam Mustaghanimi adalah penyair perempuan Aljazair yang gigih menyuarakan semangat pacakolonial di dalam puisi-puisinya. Ia lahir di Tunisia. Namun, perjalanan intelektual suaminya, Georges El Rassi, yang mengkaji gejala arabisasi dan konflik kultural Aljazair telah menuntun dirinya pindah dan menetap di sana. Aljazair memang bukan tanah kelahirannya, tetapi Mustghanimi begitu mencintainya. Sehingga, puisi-puisi ia gubah menyimpan gelora perlawanan terhadap kolonialisme.

Puisinya yang berjudul Min Ajli Huwiyyah mempresentasikan semangat nasionalisme di atas penjajahan. Ia menyeru kepada rakyat Aljazair untuk belajar mencintai bangsanya sendiri dan berhenti bergantung kepada Perancis (Barat).

Identitas Ganda

Identitas ganda dalam kajian kritik sastra poskolonial merupakan salah satu karakteristik utama yang tidak dapat dipisahkan. identitas ganda yang dimaksud adalah identitas sebagai sesuatu yang ganda, hibrid dan tak stabil (Barry, 2010: 227). Dalam puisi Min Ajli Huwiyyah, identitas ganda ini digambarkan dengan posisi penyair sebagai narator sekaligus anggota masyarakat terjajah Aljazair yang hidup di Perancis dengan segala gemerlap dan kemajuan peradabannya, akan tetapi ia mengutuk semua itu karena dorongan nasionalisme yang ada dalam dirinya.

Penyair pengatakan:
(لا ليتفرجوا على عظمة (برج ايفل
ولا ليكونوا أقرب إلى مدينة العطور واللوحات النادرة

Mereka tidak pergi ke sana untuk menonton kemegahan menara Eiffel
Tidak juga untuk melihat lebih dekat kota parfum dan lukisan-lukisan langka

Sebagai penyair sekaligus narrator yang menjadi saksi hidup imperialisme Perancis di Aljazair, ia menggambarkan kekagumannya dengan jujur terhadap keagungan peradaban Perancis.

Di sisi lain, identitas gandanya terlihat saat ia mengutuk imperialis Perancis dengan menyebutkan dampak ulah imperialisme terhadap rakyat Aljazair lewat bait berikut:

(كانت رائحة الدم أقوى من عطور (روشا) و (كريستيان ديور
(كانت حياتهم لا تساوي لوحة على حائط (اللوفر

Aroma darah itu lebih semerbak dibandingkan aroma parfum Rochas dan Cristian Dior
Kehidupan mereka tak sebanding dengan (keindahan) lukisan-lukisan langka di museum Louvre.

Menurut Bhaba, wacana Mimikri dibentuk dan dikontruksi oleh ambivalensi (Lacan dalam Bhaba dalam Yasa, 2012:199). Mimikri dinilai sebagai upaya strategis untuk bertahan dan melawan kolonial. Dalam mimikri, pihak terjajah harus menunjukkan imitasi mereka terhadap kekuasaan imperialis, sehingga seolah-olah menampakkan sikap menyatu terhadap kebijakan imperialis. Hal ini digambarkan secara implisit dalam bait berikut ini:

 إنّهم لا يصلحون للأعمال القذرة فقط
بل هم يملكون كل مؤهلات العبيد أيضاً:
السواعد القويّة.. الاخلاص في العمل..

Mereka tidak hanya mengerjakan pekerjaan yang hina
Mereka juga memiliki segala kualifikasi seorang budak:
Pembantu yang kuat… keikhlasan dalam bekerja.

Kondisi ini menunjukkan bahwa orang-orang Aljazair melebur dengan kehidupan orang barat sekalipun hanya sebagai budak. Hal ini bisa jadi sebuah bentuk penyatuan dengan kelompok imperialis, akan tetapi hal ini tidak disadari oleh orang-orang Aljazair tersebut, seperti dalam bait berikut:

 وهم قبل كل شيء لا يملكون من يحمي حقهم
اليوم مرّت ثلاث عشرة سنة على استقلالنا،
ولم يفهم بعضهم في فرنسا أن المعادلة قد تغيّرت

Mereka sebelumnya tak memiliki siapapun yang melindungi hak-haknya
Hari ini telah berjalan 13 tahun kemerdakaan kita
Dan sebagian dari mereka yang di Perancis tidak mengerti bahwa keadilan itu telah banyak berubah.

Bait tersebut mendekonstruksi setereotaip Barat yang selalu mengunggulkan gagasan kemanusiaan dan hak asasi kemanusiaan. Padahal pada faktanya kemanusiaan dan terpenuhinya hak itu hanya iming-iming belaka.

Resistensi

Menurut Aschorft (2012) resistensi atau perlawan dilakukan bukan saja dengan cara frontal dan radilkal, tetapi juga perlawanan pasif. Mempertahankan identitas dan budaya merupakan bentuk dari perlawanan pasif itu sendiri.

Bentuk resistensi atau perlawanan yang paling jelas tergambar pada puisi ini adalah seruan lugas penyair pada penekanan penguatan identitas dan budaya seperti yang dituliskannya pada bait terakhir sebagai berikut:

 اليوم نقرأ فاتحة في شوارع مرسيليا، ونمشي آلافاً خلفكم
“لنأكل تراب هذه الأرض ولا نأكل خبز الذل خارج
الجزائر”.

Hari ini kita bacakan Al Fatihah di jalanan Marcelia, dan berjalan bersama-sama
Untuk makan debu tanah air kita dan tidak menyentuh roti dari luar Aljazair.

Pada bait terakhir ini penyair menekankan bahwa sudah saatnya bangsa Aljazair bangkit dan dengan bangga meninggalkan Perancis demi menciptakan masa depan yang lebih baik untuk tanah air Aljazair. Penyair menggunakan istilah “membaca Al Fatihah” untuk memberikan kesan lebih dramatis saat meninggalkan tanah imperialis tersebut. Ia menekankan bahwa sudah saatnya jalanan kota Marcelia itu ditinggalkan dan sudah saatnya pula rakyat merasa bangga terhadap tanah air meskipun tanah airnya hanya dapat memberinya makan dari debu dan air saja bukan dari roti-roti manis yang menggugah selera.

Penulis : Dzurwatul Muna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.